Katanya Mau Ciptakan Generasi Tangguh


Siapa ngomong menikah, memiliki keluarga dan membina rumah tangga itu kasus gampang? Jangan salah, malah rintangan hidup memiliki keluarga mulai makin berat kembali sesudah kedatangan anak. Masalahnya kita tidak kembali sebatas pikirkan kasus diri kita dan pasangan, dan juga keberlangsungan hidup dan skema asuh sang kecil.

Banyak info bersebaran, mengenai saran untuk setop berbicara ‘jangan’ atau ‘nggak’ ke anak. Walau sebenarnya nih, kadang-kadang menjelaskan ke-2 kata ‘negatif’ itu perlu lo! Jika sampai kita selaku calon orang-tua berkemauan untuk habis-habisan menghindar ke-2 kata itu, bersiap saja dech cetak makin banyak angkatan manja yang tidak pernah dapat senang. Eh, kok dapat demikian? Baca penjelasannya Hipwee kesempatan ini untuk tahu jawabnya.


Berlainan dari penglihatan yang sekarang. Semakin ramai di beberapa situs sosial media, berbicara ‘jangan’ atau tidak pada. Anak kadang-kadang perlu dikerjakan. Tiada perlu ribet. Menukar kata ‘nggak atau ‘jangan’ dengan kalimat daftar lain, anak perlu. Belajar jika kadang bakal ada penampikan dalam kehidupan yang perlu untuk ditemui. Sebab bila sejak dari awal, kemauan anak terus dituruti, tidak pernah terkata kata tidak atau mungkin tidak untuk mereka, akan memacu rasa kekecewaan pada diri yang akan membuat mereka lagi tuntut lebih.

Ya, kemungkinan selaku orang-tua kamu tidak tega ya menampik keinginan anak yang akan meraung jika tidak dituruti. Tetapi jika dituruti lagi, anak tidak bisa belajar hadapi rintangan hidup, tidak bisa lebih inovatif mengakhiri permasalahan dan tidak akan senang sebab sesudah A dituruti, ia tetap akan merongrong meminta B, C, D, dan demikian selanjutnya.


Menjelaskan ‘nggak’ atau ‘jangan’ pada anak akan membuat memberikan tanggapan negatif sepanjang sesaat, tetapi yakinlah seiring berjalannya waktu dia akan belajar jika dalam kehidupan, kemauannya tidak bisa terus tercukupi. Dari satu tulisan esai tarik di The New York Times mengenai membesarkan anak lebih bagus dalam kata ‘tidak’ akan menolong si anak nantinya jadi individu yang lebih kuat, sanggup pecahkan permasalahan dengan manfaatkan apa yang telah dia punyai. Misalnya nih, waktu sang anak meminta mainan B, yang kemungkinan bisa kamu beberapa orang-tua belikan. Tetapi dengan menampiknya, dengan fakta mainan si anak masih lumayan dan belum perlu yang baru perlahan-lahan akan membuat cari pilihan permainan lain, dari beberapa benda di dalam rumah yang telah ada.

Misalkan nih, waktu anak main dengan temannya dan merampas mainan salah seorang temannya. Jangan langsung digertak dan dimarahin dengan ganas ya, Buibu dan Pakbapak! Cukup melarang dengan keras, dengan polos dan apa yang ada. Lantas terangkan secara halus, jika yang ia kerjakan itu salah, temannya dapat berduka dan hal yang dilakukan itu tidak baik. Yakinlah, bila dikerjakan dengan stabil anak tentu dapat pahami dan rasa empatinya malah dapat makin terasah.